Pasola

Perang Berkuda Tanpa Dendam

Pasola merupakan kata yang memiliki makna tersendiri dalam telinga orang Sumba. Pasola merupakan suatu perang berkuda dengan menggunakan lembing atau kayu untuk melempari lawannya, namun perang berkuda ini tidak akan ada dendam antara lawan. Pasola ini merupakan ritual adat tahunan yang dilakukan dibeberapa tempat di Pulau Sumba seperti Kecamatan Lamboya di Lapangan Hoba Kalla, Kecamatan Wanukaka yang dilaksananakn di Lapangan Kabara Bedang Lahi Hagalang, kecamatan gaura serta kecamatan kodi bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.

Pasola yang dilakukan setiap Tahunnya terkhusus di Wanukaka ini merupakan suatu acara menyambut Nyale (sejenis Cacing Laut) dan merupakan perayaan untuk menyambut musim bertani. Karena banyak atau sedikitnya Nyale yang didapat memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Wanukaka dan pada Umumnya Daerah-daerah yang melaksanakan ritual Pasola. Jika nyale hanya sedikit maka akan diramalkan hasil panen dalam tahun perayaan akan mengurang demikian sebaliknya jika nyale banyak maka panennya akan baik. Sebenarnya kepercayaan ini hanya berlaku bagi yang memeluk agama suku (Marapu) namun pada umumnya sudah menjadi kepercayaan umum di Masyarakt tersebut.

Pasola ini digelar berdasarkan sejarah fakta yang terjadi pada waktu silam dimana Rabbu Kaba putri Waiwuwang yang cantik jelita sehingga direbut oleh banyak lelaki Sumba tak terkecuali Putra Kodi Teda Gaiparona yang akhirnya merampas dari suami sah Rabu Kaba, Ubu Dula. Ketika Putra Kodi ini menculik Ke Kodi dan akhirnya Ubu Dula Putra Wanukaka mencarinya sampai di Kodi dan Putra kodi meminta untuk membayar Belis sebanyak 100 ekor kuda dan kerbau, namun Putra Wanukaka tidak menyetujuinya, sehinga diadakan perjanjian perang tanding berkuda, sehingga siapa yang menang akan mendapatkan putri Rabu Kaba. (diceritakan oleh salah satu Tokoh adat Wanukaka T.T. Molu)

Sedikit bergeser dari makna Pasola, hari ini (08/03/2018) pasola yang digelar di Kecamatan Wanukaka berjalan lancar dan ramai. Ditandai dengan banyaknya kuda dan para pejantan tangguh yang tanpa paksaan tanpa ada keuntungan rela memanjakan mata penonton hanya untuk sebuah budaya. Demikianlah Cerita saya mengenai Pasola.

Comments

Post a Comment

Silahkan Komentari

Popular posts from this blog

KATOPO ORANG SUMBA NTT

SEJARAH KERAJAAN LAULI (Loli)

Sejarah Kampung Sodan (Sodana), Lamboya, NTT